Dia Bernama Mida


Breaking News Kompas TV menayangkan berita Bom Bunuh diri di Terminal Kampung Melayu Jakarta. Aku terpaku menatap televisi di Lounge ruang tunggu Bandara Hang Nadim Batam. Ketika reporter kemudian mengabarkan bahwa terdapat beberapa korban anggota polisi, bintara muda yang sedang bertugas mengamankan pawai obor menjelang Ramadhan seketika aku memaki perlahan, "Bangsat! Teroris keparat!".

Kuambil telepon selular yang sedang kuisi daya baterainya, kulihat sudah hampir 90% lalu kunyalakan. Pesan WA pun bertubi-tubi dari berbagi Group dan private message, kuabaikan hampir semuanya hingga kutemukan pesan WA dari nomor tanpa nama dengan kode negara +60 sekian-sekian yang berisi foto tulisan tangan berisi alamat email, "bumimakinpanas@google.com". Tidak lama kemudian hampir bersamaan dengan panggilan boarding, masuk lagi pesan dari nomor tanpa nama, kali ini dengan kode negara +65 sekian-sekian yang berisi foto tulisan "L3m4hAbangTeles". Aku segera mengingat keduanya dengan detail.

Aku berdiri merapikan bawaanku sebuah messenger bag dari kulit berwarna coklat berisi laptop, sepasang pakaian dan beberapa buku lalu berjalan menuju gerbang keberangkatan. Sambil berjalan aku menelepon seseorang di Jakarta menanyakan situasi terkini kejadian bom bunuh diri, tanya jawab sebentar lalu kututup telepon dan kumasukkan ke saku celana.
"Bagaimana situasi Jakarta pak? Apakah masih aman untuk datang ke sana?" Sebuah suara lembut seorang perempuan paruh baya terdengar dari samping kiriku. Aku melihat ke arah sumber suara, wajah perempuan berkacamata hitam tampak kuatir sambil melihat ke arahku.

"Oh, aman kok bu, hanya kejadian kecil saja di Kampung Melayu, tidak melebar ke mana-mana. Ibu mau ke Jakarta?"

"Iya pak, syukurlah kalau begitu"

Kami pun kemudian boarding ke pesawat melalui fasilitas garbarata. Aku mempersilahkan ibu cantik itu mendahuluiku, kuperhatikan dari belakang postur tubuhnya ideal, mengenakan busana bagus berkelas namun tidak berlebihan, menyeret koper samsonite ukuran 20" berwarna biru donker sewarna dengan tas jinjing kulit elegan yang ia sandang.

Seperti biasa, aku duduk di sisi jendela bangku emergency exit, nomor 14F. Kuambil smart phone, log in ke google mail denga id dan password yang tadi tertera pada pesan WA, menunggu beberapa saat, aku check inbox, sent dan spam semuanya biasa saja, hanya ada pesan selamat datang dari google yg artinya akun ini baru saja dibuat beberapa saat lalu. Ternya pada folder draft baru kudapati apa yg aku cari, rangkaian instruksi bersandi yang bagi awam hanya akan tampak sebagai rangkaian kata dengan ritme pantun. Screen capture dan kemudian kupindah smartphone ke flight mode untuk kemudian kembali kukantongi. Aku ambil buku dari tas selempangku, sebuah novel terjemahan Pak Pramudya Anantha Toer berjudul Ibunda karya Maxim Gorky yang baru aku baca kurang dari seperempat tebal buku, novel ini sudah kubawa-bawa ke mana-mana dan selalu kubaca di setiap penerbangan namun baru beberapa lembar biasanya aku jatuh tertidur bahkan ketika tanda safety belt belum padam. Aku duduk kembali setelah meletakkan tas selempangku di bagasi kabin, memasang safety belt dan mencoba mencari halaman terakhir yang ku baca di penerbangan sebelumnya. Bangku 14D diisi oleh seorang bapak berkisar 60 tahun yang tampak nervouse, dia memangku jinjingannya berupa sebuah kardus mie instan yang diikat tali rafia sementara bangku 14E hingga pintu ditutup tidak terisi penumpang.

Semua penumpang sudah duduk, awak kabin mulai memeriksa sabuk pengaman dan memastikan hp sudah dimatikan. Seorang cabin crew mendekatiku dan mengkonfirmasi namaku sambil menyerahkan slip security item, aku tersenyum kepadanya sambil berterimakasih. Widya, nama pramugari itu kuketahu dari name tag yang dia pakai, tersenyum manis sekali sambil mengatakan, "Kembali kasih..".
Widya menyapa bapak 14D dan memintanya meletakkan kardus yang dipangku di bagasi kabin. Bapak itu terlihat bingung dan gerakkannya pun canggung. Widya kemudian menanyakan kepada Pak 14D apakah beliai bersedia bertukar tempat duduk dengan penumpang lain, karena si baris emergency exit tidak boleh ada barang bawaan yang mungkin menghalangi jalan ketika terjadi keadaan darurat, juga dijelaskan yang duduk di baris itu harus bersedia membantu awak kabin mengarahkan penumpang ke pintu darurat. Bapak Nervouse akhirnya bertukar duduk dengan ibu cantik tadi yang ternyata duduk di bangku 16D. Ah sebuah kebetulan yg manis.
Take Off berlangsung mulus, aku memperhatikan laut dan pulau-pulau di sekitar Batam yang semakin mengecil tertinggal di bawah. Ibu Cantik berambut pendek berwajah cantik menyapaku, "Bener ya Pak, Jakarta aman kan?"
"Insyaallah, bu"
"Kalau hotel yang dekat-dekat daerah Cibubur yang cukup bagus apa ya pak?"
Ah, dia basa-basi. Tentu mencari informasi semacam itu di jaman yang segala macam info bisa didapat melalui smartphone mudah saja dia lakukan. Namun demi kesopanan dan mencoba peruntungan aku menjawab, "Ada hotel di Mall Ciputra dekat Citra Grand bu, ibu bisa naik bus Bandara jurusan Cileungsi dan turun di depannya persis"
Pembicaraan pun berlanjut ke berbagai hal, mulai serangan teroris, pariwisata, kemacetan Jakarta dan berbagai hal lain hingga soal kuliner. Setelah bertukar cerita lucu dan suasana sudah demikian cair, kami pun bertukar nama, seperti biasa aku memakai penggalan nama belakangku, Syam. Sedangkan ibu cantik itu mengaku bernama Mida. Aku memintanya untuk tidak memanggilku dengan Pak , namun menyebut nama langsung saja dan dia pun meminta hal yang sama. Obrolan sempat terhenti ketika cabin crew membagikan minuman dan makanan namun kemudian berlanjut lagi.

"Syam, apakah sudah selesai membaca novelnya? Kalau sudah boleh aku pinjam untuk bacaanku nanti di Hotel?'

"Belum sih, tapi bawa aja jika mau, aku bakal gak punya waktu luang besok untuk membaca"

"Okay, aku pinjam ya, minta kontaknya dong, agar bisa mengembalikan nanti"

Mida mencopot nomorku dan aku mencatat nomornya. Novel Ibunda berpindah tangan, dia membuka-buka dan mulai membaca dan aku mulai terpejam, memikirkan siapa perempuan yang tiba-tiba akrab ini, berbagai kemungkinan aku uji dengan logika dan rangkaian fakta namun aku belum menemukannya. Aku pun kemudian terlelap.
Aku terbangun ketika cabin crew mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Mida tampak masih membaca novel Ibunda, dia melirikku, tersenyum dan berkata, "Enak benar tidurnya, habis begadang di Batam ya?"
Aku tersenyum tidak menjawab, meraih botol air minum dari kantong kursi, menenggak habis.
"Novel ini diterjemahkan Pram dari Bahasa Rusia ya Syam?"

"Iya, tampaknya begitu, aku belum kelar-kelar baca novel itu, padahal kubawa-bawa ke mana-mana sampai lecek gitu"

"Di bawa ke KL juga ya kemaren?"

Agak terkejut, bagaimana Mida tau aku dari KL, hmm tapi segera memoryku terpanggil bahwa ada boarding pass Malindo yang aku selipkan di Novel dan Mida pasti menemukannya.

"Iya, kok Mida tahu?"
"Aku kan agen rahasia, jadi tahu lah!"
Dia menatapku jahil sambil mengatakan kalimat itu.

"Okay... Jangan-jangan namamu Ziva bukan Mida" aku tertawa menyebut nama tokoh special agent pada serial NCIS.

Pesawat mendarat dengan sedikit guncangan, kami keluar bebarengan. Tidak ada bagasi yang kami ambil, hanya mampir sebentar di counter Lost and Found untuk mengambil security item lalu aku mengajaknya bareng ke terminal bis bandara, kuarahkan untuk nanti menggunakan Bis Sinar Jaya tujuan Cileungsi untuk bisa turun di Citra Grand. Sedangkan aku berencana naik Bis jurusan PGC atau Pasar Minggu karena aku harus langsung ke kantor membereskan beberapa hal.

Sudah hampir tengah malam di Jakarta, Mida menanyakan apakah bis tujuan Cibubur itu masih ada, aku menjawab kalau bisnya mungkin sudah habis, aku bilang bahwa sebenarnya tempat tinggalku searah dengan tujuan Mida, aku tinggal di Kota Wisata dan jika pulang aku sering melewati depan Citra Grand.

"Kita bareng aja naik Taxi, Mida nginap di Hotel dekat kantorku, ada Swiss Bell di sana, setelah aku selesaikan pekerjaan, nanti bareng aku ke arah Cibubur, mungkin jam 8 atau 9 pagi kita sudah bisa jalan"
"Oke kalau begitu, aku juga sudah ngantuk banget" jawab Mida.

Di dalam Taxi, Mida memesan kamar via Traveloka dan kebetulan masih tersedia. Kemudian ia tertidur sepanjang perjalanan. Aku yang duduk di kursi depan ngobrol dengan sopir taxi, aku tanya dia apakah merasa takut dengan adanya aksi teror bom bunuh diri seperti di Kampung Melayu, sopir taxi bernama Karyo itu mengatakan bahwa dia lebih takut tidak bisa mengirim uang ke kampung dibanding terorist.

"Halah paaak, mau teroris atau bukan, kalau memang jadi jalan mati kita, ya wis kita terima aja lha wong gak mungkin kita menghindar takdir, saya lebih takut sampai gak bisa tidur ketika akhir bulan waktunya mengirim jatah ke istri di kampung belum mencukupi... He he he he"
Aku pun tertawa getir mengingat kegagalanku dalam berumah tangga.

Kemudian aku asyik dengan smartphone ku hingga Taxi sudah di depan TMP Kalibata. Kami turun di Lobby Swiss Bell, setelah Mida mendapat kunci kamar, aku pamit dan menuju kantorku, sebenarnya bukan kantor dalam arti harfiah namun sebuah titik temu atau safe house yang terletak di Kalibata City Apartmen.

Aku masuk, bertemu beberapa kolega di sana, menyerahkan data-data dan mengarahkan staff untuk membuat laporan dari data-data terbut. Aku dan kawan-kawan kemudian mengadakan rapat terkait langkah-langkah yang akan kantor ambil ke depan menyikapi situasi keamanan regional.

Rapat selesai pukul 04:00 pagi, aku turun 4 lantai menuju apartemen Eni, seorang therapyst spa di kawasan Mangga Besar yang aku sewakan apartemen untuk ditinggalinya bersama Citra, entah nama sebenarnya siapa, yang bekerja sebagai waitress salah satu restoran di Kalibata Mall. Eni dan Citra masih ada hubungan saudara, mereka sepupuan.

Aku ketuk pintu apartemen Eni, tidak lama pintu terbuka, wajah sumringah muncul dari balik pintu, "Eh, Mas Syam... Lama banget nunggunya sampe aku ketiduran di kursi.." Eni menyambutku dengan pelukan.

"Iya ini En, maaf ya, tadi langsung rapat jadi kepagian datangnya, bareng sama bencong pulang" candaku.
"Mas Syam doyan bencong ya? Ih geli tau!" Eni tertawa kecil meladeni guyonanku.

Aku minta segelas kopi, menanyakan apakah tadi masuk kerja atau off, dan keberadaan Citra.
"Hari ini Eni tetep Eni, lagi gak jadi Putri di Spa hehehe Citra ada tuh di kamar, molor lah jam segini, Mas Syam mau ngeloni Citra atau mau Eni kelonin?"

"Aku capek banget En, kamu pijit ya..." Aku melepaskan baju dan celana, menyisakan boxer saja kemudian tengkurap di kasur lipat yang sudah tergelar, biasanya Citra yang tidur di kasur lipat ini, Eni tidur di kamar bersamaku jika pas aku berkunjung karena memang apartmen kecil ini hanya memiliki satu kamar yg sempit.

"Kok masih dipakai ini celana, buka sekalian!" Eni menarik celana boxerku hingga terlepas.
Masih dalam posisi tengkurap, sapuan handuk basah hangat cenderung dingin disapukan eni di kedua kakiku, berganti handuk baru dia menyapu pantat, punggung hingga leher. Terasa segar dan bersih, tertiup hembusan AC yang sejuk aku merasa semakin ngantuk. "Balik badan mas", ujar Eni perlahan sambil mengangkat bahu kiriku agar aku berguling terlentang. Handuk hangat suam-suam kuku kembali menyapu wajahku lalu leher, dada dan perutku. Berganti handuk baru, Eni melap selangkangan dan membersihkan dengan detail kantong kemaluan hingga batangnya sebersih mungkin. Handuk terakhir digunakannya menyapu kedua paha hingga kaki.

Tercium samar aroma green tea dari seuatu yang dicampurkan Eni pada air hangat. Aku semakin mengantuk. Terlentang dan terpejam, aku mendengar bisikan Eni di telingaku, "Mas, keluarin dulu ya... Baru nanti diurut biar rilex gak tegang lagi". Tanpa daya aku mengangguk mengiyakan. Hembusan nafas Eni terasa dikeningku, dia mengecup perlahan sebagai awal dari rangkaian panjang kecupan di depan telinga, kelopak mata, berhenti sebentar dia merubah posisinya naik ke atas tubuh bugilku.

Selangkangan Eni yang berlapis celana pendek berbahan kaos menempel hangat di atas kelaminku. Dada sintal tertutup kaos tanpa BH bergeser perlahan di perut dan dadaku seiring bibirnya bergerak melata laksana lintah menghisap-hisap puting kecilku lalu menyerang leher, mengendus ketiak beraroma maskulin keringat lelaki bercampur deodoran body shop dan berakhir dengan pagutan lembut basah di kedua bibirku. Aku meladeninya, mengulum bibir, memilin lidah dan berpagutan ala kadarnya.

Kaos Eni kulepas, kedua susunya dengan puting kelam sudah tampak mengeras, aku meraba keduanya, mendorong badan Eni agar sedikit naik sehingga aku bisa mengulum dua mutiara kenyal susu Eni. Gelitikan basah lidahku membuatnya mendesah-ndesah, sementara tanganku meremas dan mencengkeram pantat bulat berbalut celana kaos Eni.


Di luar sana sayup-sayup terdengar rekaman orang ngaji dari masjid entah di mana, sebentar lagi adzan subuh tampaknya. Pintu kamar terbuka, Citra keluar kamar dan tampak tidak memperhatikan kami, dia masuk kamar mandi. Eni pun seakan tak peduli, dia meneruskan saja aksinya, menggesek-gesek selangkangan empuknya di kemaluanku yang mulai berdenyut membesar dan mengeras.
Pintu kamar mandi terbuka, Citra tampak terperanjat melihat kami bertumpukan di kasur lipatnya, "Maaf ..maaf..." Ujarnya sambil berlalu kembali masuk kamar. "Gak apa-apa nok, kalau mau ambil baju ambil aja..." Saut Eni sambil terus beraksi. Memang lemari baju Citra berupa rak sorong plastik ada di luar kamar, ada persis di samping tempat kami saling peluk.

Kelaminku yang sempat melemas ketika Citra lewat, kembali menegang ketika Eni mulai mengulum dan menjilati kepala penisku. Kuluman basah dalam diselingi jilatan dan kecupan di bagian bawah batang penis hingga kantong biji benar-benar membuatku terangsang hebat. Sementara badanku letih, pikiranku juga belum sepenuhnya lepas dari persoalan pekerjaan membuatku segan untuk bermain cinta dengan Eni. Aku hanya ingin segera ejakulasi sehingga syaraf-syarafku yg tegang bisa relaksasi.

Aku pegang kepala Eni dengan kedua tanganku, kuikuti irama kuluman naik turunnya, kupercepat ritme kulumannya sambil kuteganggkan otot paha dan fokus ke kantong spermaku untuk segera melepaskan cairan kental bernama mani itu.

Kubimbing ritme kepala Eni mengulum penisku semakin cepat dan ketika ejakulasi terjadi kutahan kelaminku dalam mulutnya, entah berapa banyak sperma yang keluar. Rasa nikmat luar biasa terasa disusul rasa lega dan rilex dilengkapi ngantuk luar biasa.

Aku melihat Citra samar-samar mendekat, "Teh.. punten mau ambil mukena"
Jeda sesaat, suara Eni meludahkan spermaku di ember air buat mengelap badanku tadi, lalu terdengar suara Eni agak tersenggal, "Sok ambil aja, santai aja nok..". Aku pun kemudian terlelap.

Category